Desa Spanduk Lukis Pecel Lele yang Menggurita dari Lamongan ke Seluruh Nusantara
LAMONGAN– Di balik gemerlap ribuan tenda pecel lele yang menghiasi sudut kota Nusantara, tersimpan sebuah sejarah visual yang selama ini jarang terungkap. Sosok di balik huruf-huruf miring dan lukisan ikan lele yang menjadi ikon kuliner kelas kaki lima itu bukanlah perupa ternama dari kota besar, melainkan seorang pemuda dari Desa Bulutengger, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Kepala Desa Bulutengger membuka tabir sejarah bahwa pelopor seni spanduk lukis pecel lele adalah Teguh Wahono, seorang penggambar otodidak yang pada era 1980-an merantau ke Jakarta dengan bermodal bakat dan tekad.
“Dulu sekitar tahun 1980-an, ada tokoh pemuda yang namanya Mas Teguh Wahono. Beliau itu bakat menggambar,” ujar Kades yang akrab disapa Pak Sumadi, mengawali cerita.
Saat itu, kata dia, Teguh Wahono memutuskan untuk mencari kehidupan yang lebih layak ke Ibu Kota. Seperti kebanyakan perantau Lamongan pada zamannya, ia bekerja membantu pedagang kaki lima. Namun, titik balik terjadi ketika atasannya meminta Teguh untuk membuatkan sebuah spanduk. Sang pedagang membutuhkan media promosi yang mencolok untuk menarik pembeli di tengah hiruk-pikuk Jakarta.
“Waktu itu dia disuruh membuatkan gambar lele,” kenang Kades. Namun, pekerjaan sederhana itu berkembang menjadi sebuah revolusi estetika. Ciri khas itulah yang kemudian menjadi *trade mark* spanduk pecel lele hingga hari ini..
Lebih dari sekadar menggambar, Kades Bulutengger mengungkapkan fakta mengejutkan lainnya. “Yang mencetuskan istilah ‘Lele Lamongan’ itu juga Mas Teguh. Jadi yang namanya kaki lima untuk pecel lamongan itu Mas Teguh yang memberi nama,” tegasnya.
Penamaan “Pecel Lele Lamongan” bukanlah tanpa alasan. Teguh ingin menciptakan identitas asal-usul yang kuat. Di tengah persaingan penjual pecel lele di Jakarta yang mulai marak, label ‘Lamongan’ menjadi pembeda. Ia menyadari bahwa nilai jual sebuah produk tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada cerita dan identitas visual. Sejak saat itu, seni spanduk lukis dengan menggunakan cat pada bahan kain, teknik yang memberikan hasil warna lebih kaya, tahan lama, dan mudah digulung (fleksibel) untuk tenda bongkar pasang.dan karakter lele yang jenaka mulai tersebar. Perantau Lamongan lainnya yang melihat kesuksesan model promosi ini mulai meniru, dan secara organik, lahirlah sebuah genre seni yang khas Lamongan.
Hingga kini, tidak banyak yang tahu bahwa seni spanduk yang sering dijadikan Identitas Pedagang pecel lele itu, lahir dari tangan Teguh Wahono. Spanduk-spanduk tersebut memadukan teknik melukis di atas kain dengan tipografi bebas, berbeda dengan cetak digital modern yang steril. Warnanya cerah, dominan merah, kuning, hijau, dan biru. Huruf-hurufnya dipenuhi efek bayangan dan gradasi sederhana, menciptakan ilusi tiga dimensi yang kasar namun memikat.
Seni ini sejatinya adalah bentuk awal dari “desain grafis rakyat” yang berfungsi murni sebagai alat pemasaran. Namun, kehadirannya telah membentuk ekosistem. Puluhan perantau Lamongan sukses membuka usaha kuliner, dan para pelukis spanduk di kampung-kampung pun mendapat berkah ekonomi dari pesanan pembuatan spanduk yang dikirim ke seluruh Indonesia.
